banner web

 

Perdamaian adalah Rajanya Hukum

on . Posted in Berita. Hits: 89

WhatsApp Image 2019 10 31 at 16.19.20

Bertempat diruang mediasi Pengadilan Agama Lubuklinggau proses mediasi dilakukan oleh Mediator dari unsur Hakim yaitu Bapak Badrudin, SHI., MH. Pada Hari Kamis tanggal 31 Oktober 2019, nomor perkara: 1072/Pdt.G/2019/PA.LLG, berhasil menemui titik temu kesepakan untuk perkadamian, keduanya Pemohon dan Termohon sama-sama ingin kembali hidup rukun dalam rumah tangga, setelah kurang lebih berpisah 5 (lima) bulan;

Mediator menekankan kepada kedua belah pihak, baik Pemohon maupun Termohon agar selalu menunaikan kewajibannya terlebih dahulu dalam berumah tangga, baru kemudian menuntut haknya, jangan justru sebaliknya menuntut hak dulu baru melaksanakan kewajiban. Inilah pondasi pokok yang harus dilaksanakan oleh suami maupun isteri, selain itu Pemohon dan Termohon harus saling isi mengisi, saling melengkapi, saling menutupi kekurangan satu sama lain, sebab suami isteri pasti memiliki kekurangan dan kelebihan;

Hal tersebut sejalan dengan Firman Allah Surat Albaqoroh ayat 187 yang menyebutkan bahwa suami adalah pakaian isteri dan isteri adalah pakaian suami, layaknya sebuah pakaian yang berfungsi menutup aurat, menutup kekurangan dan memperindah bagi Si Pemakai “suami/ isteri”, tidak boleh saling membuka kekurangan, aib, keburukan, pasangan kepada orang lain;

Selain itu suami isteri juga harus saling mengingatkan, insterospeksi satu dengan lainnya, jika suami diingatan isteri, maka suami harus mau menerimanya sebaliknya pun demikian, supaya kita dapat mengetahui apakah koreksi dari pasangan itu benar atau tidak, maka setiap pasangan harus memiliki takaran, timbangan, lalu apa takaran tersebut, Mediator lebih jauh menjelaskan bahwa kita harus menimbangnya berdasarkan tiga takaran:

  1. Salah dan benar menurut ajaran Agama, jika itu salah menurut ajaran agama, maka stop jangan dilakukan lagi;
  2. Salah dan benar menurut ketentuan Undang-undang, jika itu salah menurut Undang-undang, maka stop jangan dilakukan lagi;
  3. Salah dan benar menurut norma-norma yang berlaku ditengah-tengah masyarakat kita, meskipun Norma tersebut sebagian besar bersumber dari nilai ajaran agama, jika itu salah menurut norma-norma, maka stop jangan dilakukan lagi;

Setelah kurang lebih dua jam mediasi berlangsnung, akhirnya kedua belah pihak dengan mantab dan dengan mengucap bissmillahirrahmannirrahim, keduanya menyatakan berdamai, ingin kembali rukun membina rumah tangga, lalu Mediatorpun kembali meyakinkan kedua belah pihak, bahwa ini adalah jalan yang terbaik bagi keduanya dimana menurut Ajaran Nabi Kita bahwa perdamian adalah rajanya hukum, perdamaian adalah diatas segala-galanya, diatas hukum apapun, perdamaian adalah yang terbaik (asshulhu khoir/ asshulhu sayyidul ahkaam);

Diakhir kembali Mediator berpesan kepada Pemohon dan Termohon, bahwa tanamlah banyak-banyak kebaikan, supaya kita sama-sama memanen kebaikan dan jangan tanam keburukan karena itu juga akan kembali kekita siapa yang menanam, tidak akan tertukar dan Allag SWT juga tidak akan mungkin menukarnya;

 

- Badrudin,S.H.I.,M.H

Add comment